Fobia Sekolah

Fobia adalah ketakutan atau kecemasan yang abnormal, tidak rasionil. Ketakutan khas yang neirotis, sebagai simbol dari konflik-konflik, yang kemudian menibulkan ketakutan dan kecemasan (Drsa. Kartini Kartono). Sedangkan fobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat, atau hari Minggu / libur. Fobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapai suatu.

Tanda-tanda Fobia sekolah:

  1. Menolak berangkat ke sekolah
  2. Datang namun tidak lama kemudian meminta pulang
  3. Menunjukan sifat agresif terhadap anak lain maupun menentang guru
  4. Menunjukkan ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang

Alasan-alasan umum yang biasa di kemukakan adalah keluhan fisik seperti sakit kepala, pusing, mual, sakit perut, diare, dan lain lain. Yang intinya agar ia diperbolehkan tinggal dirumah.

Waktu berlangsungnya fobia sekolah tergantung dari penanganan orang tua yang intense terhadap anak. Sehingga ank dapat berangsur-angsur pulih dalam hitungan minggu.

Penyebab dari Fobia sekolah adalah:

  1. Separation anxiety:  Biasa di alami oleh anak yang berusia 1,5-2 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan anak diatas usia tersebut juga dapat terkena hal ini. Bagi mereka, sekolah berarti pergi dari rumah untuk jangka waktu yang cukup lama. Mereka tidak hanya akan merasa rindu terhadap orangtua, rumah, atau pun mainannya – tapi mereka pun cemas menghadapi tantangan, pengalaman baru dan tekanan-tekanan yang dijumpai di luar rumah.
  2. Pengalaman negatif di sekolah: Anak mendapati dirinya tidak nyaman di sekolah, seperti mendapat cemooh dari teman-temannya, tidak percaya diri karena gendut, jelek, tidak cantik dan lain sebagainya.

Penanganan:

  1. Tetap menekankan pentingnya sekolah
  2. Berusaha konsisten terhadap anak
  3. Konsultasikan kesehatan anak pada dokter
  4. Bekerjasama dengan guru atau wali kelas
  5. Luangkan waktu untuk berbicara baik-baik
  6. Lepaskan secara bertahap
  7. Konsultasikan terhadap psikikolog jika masalah berlarut

Sumber dikutip dari:

  1. http://psiko-indonesia.blogspot.com/2007/01/fobia-sekolah.html
  2. Papalia, Diane E., 2008, Human Development (Psikologi perkembangan), Kencana, Jakarta.
  3. Kartono, Kartini, 1983, Mental Hygiene (kesehatan Mental), Penerbit Alumni, Bandung.
  4. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/fobia-sekolah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: